SekolahKu
MAU IKUT ? : KOMPETISI KARYA ILMIAH REMAJA (KIR) atau OLIMPIADE PENELITIAN SISWA INDONESIA (OPSI)

Remaja, atau siswa-siswi SMA atau SMK berminat ikut ajang Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI dan Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) Kemendikbud ada beberapa tip yang perlu diketahui. Diantaranya, karya tulis sebaiknya unik, kreatif, inovatif, menarik, dan orisinil sehingga menjadi pilihan diantara karya tulis yang masuk kedalam ajang lomba tersebut. Sebuah penelitian sebaiknya menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat, tetapi karya sains dasar yang tidak langsung dirasakan masyarakat tidak kalah penting seperti karya sains terapan.

Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) adalah ajang kompetisi KIR tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kemendikbud setiap tahun. Sama halnya dengan LKIR LIPI, waktu diselenggarakan tiap tahun hampir bersamaan dengan OPSI. Kemendikbud berkerjasama dengan LIPI akan menyeleksi enam tim KIR Indonesia untuk ikut berkompetisi dalam Intel International Science and Engineering Fair yang diselenggarakan di Amerika Serikat setiap tahun. Kerja sama Kemendikbud dengan PASIAD melalui ajang kompetisi OPSI-ISPO menyeleksi 10 tim KIR Indonesia untuk mengikuti kompetisi International Science Project Olimpiade (ISPO) diselenggarakan di Indonesia. Kompetisi ini hanya dua bidang, yakni bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). 

Tahun ini dari seluruh laporan penelitian yang dikirimkan kepada Kemendikbud PSMA, diambil 58 finalis bidang IPA dan 30 finalis bidang IPS. Para finalis ini kemudian akan mengikuti pameran yang diselenggarakan oleh Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Tim juri yang menyeleksi para finalis berasal dari LIPI, IPB, UI, ITB, UPI dan lain-lain.

Kemendikbud menetapkan mekanisme seleksi yang berbeda dengan mekanisme seleksi LKIR LIPI. Pada ajang kompetisi ini, pada tahap awal mengevaluasi paper atau laporan penelitian yang sudah jadi. Dalam hal ini tidak melalui proses seleksi proposal, atau rencana penelitian. Setelah dilakukan seleksi awal berdasarkan bidang masing-masing, finalis yang terpilih akan mengikuti pameran yang sekaligus penjurian di stan masing-masing karyanya. Jadi, tidak ada tahap prensentasi khusus yang dilaksanakan di ruangan tertutup layaknya LKIR LIPI. Setelah itu diambil 32 juara untuk bidang IPA dengan perincian sebagai berikut, medali emas sebanyak delapan tim, medali perak delapan tim, dan medali perunggu sebanyak delapan tim. Setiap tim memiliki peluang untuk menang, probabilitas untuk memperoleh juara sekitar 55 persen. Sedangkan bidang IPS akan diambil 16 juara yang terdiri dari empat tim untuk medali emas, masing-masing empat tim untuk medali perak dan perunggu sehingga probabilitas untuk menyabet juara 53 persen. Ajang kompetisi ini menarik dan menjanjikan dengan mendapatkan uang yang cukup besar.

JARING LABA-LABA   

Untuk melengkapi informasi ini, mari kita intip mengenai isi karya teman-teman yang sudah ikut ajang kompetisi pada OPSI Kemendikbud. Secara ringkas penelitian mereka membahas tentang keunikan tranmisi getaran pada jaring laba-laba. Mereka mendeteksi bagaimana laba-laba dapat mengetahui mangsa yang terperangkat pada jaringannya. Dengan memberikan frekuensi buatan pada jaring laba-laba, mereka menemukan bahwa, frekuensi getar dan besarnya amplitudo akibat getaran pada jaring laba-laba cenderung berbanding terbalik dengan besarnya frekuensi buatan yang diberikan pada jaring laba-laba.

Pada rentang frekuensi buatan sekitar 19 Hz, frekuensi getar 50 – 200 Hz, dan besarnya aplitudo jaring laba-laba mencapai puncaknya. Tetapi, pada rentang frekuensi buatan 750 – 1000 Hz, frekuensi getar dan besarnya aplitudo cenderung menurun. Lebih lanjut lagi ditemukan, cepat rambat rangsang jaring laba-laba berbanding lurus terhadap nilai Modulus Young jaring laba-laba. 

Harus diakui, penelitian para remaja itu unik, kreatif dan surprising. Banyak kita berpendapat bahwa sebuah penelitian harus bermanfaat langsung bagi masyarakat, tetapi mereka berpendapat beda. Suatu sains dasar yang tidak memiliki manfaat langsung kepada masyarakat juga harus dilakukan dan tidak kalah pentingnya dengan karya sains terapan. Terbukti dengan karya tersebut mereka berhasil menyabet tiga juara KIR tingkat nasional berturut-turut, yaitu medali perunggu Indonesian Science Project Olympiade (ISPO) ke-7 tahun 2015, juara pertama LKIR LIPI ke-47 tahun 2015, dan medali emas OPSI Kemendikbud tahun 2015. Banyak lagi karya-karya remaja Indonesia yang menarik, kreatif, inovatif, inspiratif dan menggelitik. Percayalah, ide itu lahir dari pikiran cermelang dan hati yang bersih.(bd/dari berbagai sumber)

About the author

Related Post

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

13 + 16 =

CONTACT US

[email protected]

Jln. Perumahan Kayu Manis Residence No.D8. Kelurahan Kayu Manis. Kota Bogor 16169